Islamic Relief Indonesia Memutuskan Kerja Jangka Panjang di Sulawesi Tengah

Senin, 27 Februari 2023 bertempat di ruang kerja walikota Palu, Islamic Relief Indonesia melakukan audiensi program pemulihan mata pencaharian berkelanjutan berbasis syariah yang akan berjalan di kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah.

Fahmi Rahmatna selaku koordinator Islamic Relief Indonesia wilayah Sulawesi Tengah menyatakan: “Terdapat dua kegiatan yang saat ini sedang dijalankan dalam kerangka mendukung pemulihan secara penuh ekonomi masyarakat terdampak gempa bumi 28 September 2018, yaitu melalui projek Sustainable Livelihood Recovery through Islamic Social Entrprise (SULRISE) untuk 1,500 Keluarga terdampak bencana yang tinggal di HUNTAP Balaroa, Duyu dan Tondo wilayah kota Palu serta HUNTAP Pombewe untuk wilayah Kabupaten Sigi. Yang kedua adalah projek Livehood Recovery in Post Disaster Area (LIREPDA) bekerjasama dengan BAZNAS untuk 500 Mustahik yang tersebar di wilayah Palu dan 500 Mustahik yang tersebar di wilayah Kabupaten Sigi”.

Selanjutnya, Fahmi menyampaikan: “Nilai total kedua projek ini berjumlah Rp. 13 milyar yang diperuntukan bagi kegiatan pengkajian pola dan mekanisme usaha berkelanjutan, pelatihan-pelatihan seperti pelatihan kewirausaan, pembukuan, dan pemasaran, serta praktek usaha unggulan melalui pola inkubasi usaha untuk meningkatkan kapasitas berusaha para pemegang hak (penerima manfaat)”.
Fahmi juga menambahkan bahwa kepada 2.500 KK tersebut akan diberikan permodalan usaha bergulir dan/atau hibah senilai Rp. 4 juta rupiah per orang, yang kemudiaan akan dilanjutkan dengan pembentukan dan pengembangan koperasi syariah yang akan mengelola dana bergulir tersebut agar dapat berkelanjutan.

Sementara itu Ade Reno Sudiarno selaku Deputi CEO Islamic Relief di Jakarta yang membidangi program dan penggalangan dana menyatakan: “komitmen kami adalah sekuat mungkin melaksanakan program kebencanaan secara holistic dan komprehensif. Dalam arti bahwa bila ada satu daerah dilanda bencana yang cukup besar, maka Islamic Relief diusahakan sekuat tenaga untuk hadir sejak hari pertama bencana sampai pada fase pemulihan. Di fase tanggap bencana, Islamic Relief melaksanakan kegiatan tanggap bencana, yang kemudiaan dilanjutkan dengan kegiatan early recovery pada fase transisi darurat ke pemulihan melalui pengadaan hunian sementara, pembangunan ketangguhan masyarakat dan pemerintah daerah dalam pengurangan resiko bencana, rehabilitasi sekolah, saran air bersih dan kegiatan dukungan mata pencaharian di fase awal pemulihan. Selanjutnya di fase pemulihan, Islamic Relief menjalankan program mata pencaharian berkelanjutan (sustainable livelihood) untuk mendukung pemerintah yang telah selesai merelokasi masyarakat dan menyediakan hunian tetap seperti yang sudah dijelaskan pak Fahmi”.

Lebih jauh CEO Islamic Relief, Nanang Subana Dirja menyatakan bahwa untuk di Sulawesi Tengah, Islamic Relief telah memutuskan untuk membuka kantor tetap di Kota Palu dan saat ini sudah menjalankan kegiatan peningkatan kesejahteraan anak melalui program OSP (Orphan Sponsorship Program) yang berdurasi jangka panjang.
“Saat ini kami telah menjalankan program jangka panjang dalam bentuk dukungan kehidupan bagi kurang lebih 90an anak yatim dan yatim piatu, yang kehilangan ayah atau ayah ibunya akibat gempa bumi, tsunami dan liquefaksi. Dukungan ini diberikan dalam bentuk pemberian pendanaan rutin setiap 3 bulan sekali, dengan besaran total Rp. 6 juta rupiah per tahun yang disertai pengawasan perkembangan Pendidikan dan Kesehatan anak dan pelatihan perlindungan anak bagi para ibu atau pengasuhnya. Program ini akan dijalankan sampai anak lulus SMA, dan bila perlu sampai lulus kuliah tergantung dari donornya. Harapannya dalam 3 tahun ke depan, terdapat 1,500 anak yang akan terdaftar dalam program yang mulia ini. Mohon doa dan dukungannya dari para donor dan juga masyarakat luas pada umumnya”. Demikian terang Nanang

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp