Lokakarya:
Menggali “Saluran Harapan” dalam Kajian Islam untuk Gender, Perlindungan Anak, dan Advokasi

Lokakarya Pelatihan Saluran Harapan (Channel of Hope) Gender, Perlindungan Anak, dan Advokasi Dengan Kajian Islam Untuk Tokoh Agama, Guru, dan Aparatur Desa, di Provinsi NTB, Mataram 5 – 8 Maret 2024

  • Dari sudut pandang Islam, Gender dapat diartikan sebagai Al Musawa: kebersamaan dan kemitraan antara laki-laki dan perempuan.
  • Kajian arti dan makna Anak dalam Islam:
  • Anak adalah Perhiasan Hidup di Dunia (QS: Al Kahfi: 46)
  • Anak sebagai Penyejuk Hati (QS: Al Furqan: 74)
  • Anak sebagai Ujian (QS: Al Munafiqun: 9)
  • Y perempuan berusia 20 tahun dari Kab. Lombok Utara berbagi pengalaman sebagai korban kekerasan seksual yang dialaminya di hadapan 38 peserta pelatihan lokakarya untuk menjadi pembelajaran dinamika kasus kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan, tindakan pencegahan dan penanganan yang telah berjalan dan perlu ditingkatkan.
  • 2 Anggota Forum Anak Kab. Lombok Timur berbagi pengalaman dan pemahaman mereka tentang implementasi Hak Anak dan Perlindungan Anak dalam kegiatan mereka sehari-hari.

Point-point di atas adalah cuplikan beberapa materi ajar dan bahan diskusi yang ada dalam Lokakarya Pelatihan dihadiri oleh 38 peserta dari unsur tokoh Agama, guru, dan aparatur desa selama 4 hari dari tanggal 5–8 Maret 2024 di Kota Mataram. Peserta berasal dari daerah Lombok Barat/ Mataram, Lombok Timur, Lombok Utara, dan Kota Bima Provinsi NTB.

Untuk merespon kondisi dan dinamika kekerasan terhadap anak dan Perempuan yang terjadi di Prov. Aceh dan NTB , Islamic Relief Indonesia dengan Implementasi Project EMPOWER (Emancipatory Mobilisation through Participation, Ownership, Women’s Engagement and Resilience) dengan support dari Islamic Relief Canada berkolaborasi bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Aceh dan NTB, Wahana Visi Indonesia, Flower Aceh, Klub Baca Perempuan Lombok Utara, dan para tokoh agama di 2 Provinsi untuk berupaya lebih meningkatkan kesadaran, meningkatkan upaya pencegahan, dan merencanakan aksi advokasi terhadap isu kekerasan berbasis gender dan Perlindungan Anak dengan melibatkan para tokoh agama, guru, apparat desa dan pemangku kepentingan utama di pemerintahan, dan masyarakat luas di Aceh dan NTB.

Upaya penyadaran, pencegahan, dan advokasi ini dilaksanakan dengan 3 strategi utama:

  1. Membangun kemitraan dan aliansi,
  2. Pengembangan dan Penguatan Kapasitas,
  3. Advokasi kepada dan oleh para pemangku kepentingan serta masyarakat luas.

Pelatihan dan Lokakarya tersebut di atas adalah sebagai bagian dari kegiatan project EMPOWER dilakukan dengan metodologi Channel of Hope atau Saluran Harapan, hasil kolaborasi antara Islamic Relief Indonesia dan Wahana Visi Indonesia untuk membangun dan memperkuat kapasitas para tokoh agama serta Pemangku Kepentingan Keadilan Gender dan Perlindungan Anak. Metode ini bersifat fasilitatif dan interaktif, menciptakan ruang aman bagi para tokoh agama, guru, aparatur desa, dan pemangku kepentingan lainnya untuk dapat belajar, berdebat, dan berbagi tentang pandangan mereka dari sudut pandang kenyataan sehari hari, budaya, dan agama Islam. Lokakarya dan Pelatihan ini berupaya untuk menyentuh hati para peserta membantu mereka untuk merasakan dan mengalami bagaimana kemiskinan, kekerasan dan ketidakadilan berdampak pada mereka dan orang-orang di komunitas mereka, terutama perempuan dan anak-anak yang paling rentan. Lokakarya dan Pelatihan ini juga berupaya untuk melatih dan mendiskusikan pikiran dan pendapat para peserta untuk mengkaji kenyataan yang ada tentang kekerasan terhadap anak dan Perempuan yang disandingkan dengan pemahaman tentang Gender dan perlindungan anak pada kitab suci Al-Quran serta Hadist. Budaya dan tradisi lokal setempat juga digali untuk menjadi perspektif utama dalam memandang gender dan perlindungan anak.

Dari total rencana 6 batch Lokakarya dan Pelatihan, 3 batch telah dilaksanakan untuk membangun kapasitas dari 90 tokoh agama, guru dan aparatur desa di Aceh dan NTB.
Sebagai bagian dari hasil pelatihan, di penghujung hari terakhir pelatihan tokoh agama, guru, dan aparatur desa telah menyusun rencana Advokasi internal dan eksternal untuk menginisiasi perubahan mencapai keadilan gender dan lebih melindungi anak di area dan konteks mereka masing-masing.

Pasca pelatihan dan lokakarya, para peserta akan difasilitasi untuk menggerakkan “tangan” mereka karena mereka akan memahami tindakan pencegahan dan respon apa yang masih perlu dilakukan di tengah masyarakat, apa peran khusus mereka sebagai komunitas Muslim dan bagaimana mereka semua dapat bermitra bersama untuk membuat dampak maksimal melalui rencana aksi individu dan kelompok.

Islamic Relief Indonesia bersama pihak pemerintah dan CSO di Aceh dan NTB akan berkolaborasi bersama untuk memonitor inisiasi perubahan di tengah masyarakat konteks masing-masing daerah peserta yang dilakukan oleh para tokoh agama, guru, aparatur desa dan pemangku kepentingan perlindungan anak dan gender lainnya dengan monitoring dan supervisi.

Rencana pertemuan bersama masyarakat akar rumput, kampanye, kegiatan lanjutan untuk Pembangunan kapasitas, fasilitasi koordinasi, dan advokasi terhadap para pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan juga telah disiapkan dalam rencana kerja implementasi project Empower sepanjang tahun 2024 ini.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp