Tingkatkan Usaha Pengurangan Resiko Bencana, Islamic Relief Area Sulteng Libatkan Para Tokoh Agama

Islamic Relief Area Sulawesi Tengah (Sulteng) melakukan pendekatan penguatan Tokoh Agama dan Rumah Ibadah dalam usaha pengurangan resiko bencana. Hal itu disampaikan langsung oleh Fahmi Rahmatna selaku Koordinator Islamic Relief Area Sulteng dalam acara Learning Workshop and Balaroa Public Space – Memorial Wall Launching yang diselenggarakan oleh The United Cities and Local Government s Asia Pacific (UCLG ASPAC) bekerjasama dengan Cites Unies France dan Pemerintah Kota Palu, bertempat di Hotel Best Western Coco Palu.

Kegiatan yang berlangsung pada Jum’at 27 Mei 2022 tersebut juga dihadiri oleh berbagai pihak diantaranya Wali Kota Palu, Kepala BPBD Kota Palu, Perwakilan Pengurus Forum Pengurangan Resiko Bencana Kota Palu, serta sejumlah Organisasi Masyarakat (Ormas) dan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau NGO yang berada di Kota Palu.

Fahmi Rahmatna selaku Koordinator Islamic Relief Area Sulteng dalam kesempatan tersebut menyampaikan terkait usaha mereka dalam pengurangan resiko bencana dengan pendekatan para tokoh agama dan rumah ibadah. Ia menerangkan bahwa para tokoh agama punya peranan penting di tengah masyarakat yang memang cukup memiliki kedekatan dengan mereka. Hal tersebut sangat bagus untuk dimanfaatkan dalam usaha pengurangan resiko bencana. Melalui kedekatan tersebut, para tokoh agama tentu akan mudah dalam mensosialisasikan bagaimana seharusnya tindakan yang dilakukan ketika akan terjadi bencana serta hal-hal yang harus dipersiapkan.

“Tokoh agama dan rumah ibadah itu punya peran penting dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Sampai saat ini kita sudah melakukan beberapa kali workshop bersama para tokoh agama dan mengidentifikasikan apa kebutuhan tokoh agama untuk bisa menyampaikan pengetahuan-pengetahuan terkait dengan pengurangan resiko bencana. Nah, itu berhasil kita identifikasikan terkait bagaimana para tokoh agama bisa mengidentifikasi ayat-ayat suci yang berhubungan dengan kebencanaan. Dan sebenarnya kesiapsiagaan itu sudah diajarkan dalam agama,” terangnya.

Ia juga menyampaikan bahwa terkait keberlanjutan usaha pengurangan resiko bencana melalui pendekatan tersebut, Islamic Relief sedang bekerjasama dengan BNPB dalam menyusun modul yang nantinya bisa digunakan untuk melatih para tokoh agama dalam melakukan penguatan-penguatan kepada para penganut agamanya.

“Jadi, ada tiga modul yang kita susun yaitu modul khusus agama Islam, Kristen dan Hindu. Nah, nantinya modul-modul ini bisa digunakan untuk melatih tokoh-tokoh agama tentang bagaimana kegiatan pengurangan resiko bencana. Karena memang nanti bisa diliat juga bagaimana tokoh agama menyebarkan informasi soal kebencanaan melalui kegiatan keagamaan yang biasanya dilakukan di rumah-rumah ibadah,” ujarnya.

Sejauh ini, Islamic Relief Area Sulteng sudah melakukan training kepada para tokoh agama di Kabupaten Sigi. Rencananya, pada bulan juli mendatang Islamic Relief Area Sulteng akan melakukan lagi kegiatan training untuk para tokoh agama di Kota Palu terkait kegiatan pengurangan resiko bencana dengan pendekatan penguatan tokoh agama dan rumah ibadah tersebut.***

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp